PERMAINAN TRADISIONAL (TAK) LAGI POPULER
Permainan petak umpet yang dulu sangat digemari telah tergantikan permainan sejenis counter strike. Lahan luas sebagai sarana bermainpun sudah tergantikan mal, perumahan, dan rumah toko (ruko). Kini permainan tradisional tak lagi digandrungi anak-anak zaman sekarang, ahh…
Kondisi Indonesia yang bervariasi mulai dari alam pegunungan, sungai, dataran, pulau, sampai suku-suku yang mendiaminya. Seakan menjadi latar lahirnya permainan-permainan kreatif yang diciptakan oleh leluhur bangsa ini untuk anak bangsa dengan memanfaatkan kondisi alam. Nilai-nilai yang disisipkan pun diharapkan dapat dilaksanakan anak-anak dalam setiap tindakan dan perbuatannya dengan penuh kesadaran atau tanpa adanya paksaan. Selain itu, dapat memberikan rasa puas atau senang bagi si pemain.
Beberapa ahli psikologi berpendapat bahwa dalam permainan tradisional sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Dengan bermain bersama, anak-anak dilatih untuk bisa saling menghargai bahwa setiap orang memiliki karakter dan nasib yang berbeda-beda. Sesama manusia harus hidup tolong-menolong dengan bergotong-royong. Selain itu, pada setiap tahap permainan ini anak-anak sudah melatih diri untuk bersikap ulet, jujur, setia kawan, dan disiplin agar dapat mencapai apa yang dicita-citakan.
Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa permainan tradisional ini akan banyak memberi pengaruh bagi masa depan bangsa. Rasa senang dapat dialami oleh setiap orang, kaya atau miskin, orang kota atau desa dan berlaku dari dulu, sekarang, dan seterusnya sampai waktu tak terhingga. Nilai-nilai luhur yang tersirat didalamnya bisa melekat pada pemain-pemainnya, yakni anak-anak yang kelak akan meneruskan perjuangan mempertahankan bangsa ini. Bagi Prof. Dr. N. Driyarkara S. J, ahli filsafat, pendidikan kebudayaan lokal seperti permainan merupakan awal dari pendidikan kepribadian nasional. Oleh karena itu, setiap pendidikan budaya lokal akhirnya harus diintegrasikan dengan pendidikan nasional.
Permainan tradisional bisa mengasah kemampuan motorik anak, baik kasar maupun halus, serta gerak refleksnya. Selain gerakan motorik, anak juga dilatih bersikap cekatan, berkonsentrasi, dan melihat peluang dengan cepat untuk mengambil keputusan terbaik agar bisa menangkap lawan seperti dalam permainan Benteng. Kemudian permainan seperti dakon dapat merangsang menggunakan strategi. Anak harus pandai menentukan poin atau biji di lubang mana yang harus diambil terlebih dahulu, agar bisa mengumpulkan biji lebih banyak dari lawan.Melihat manfaat-manfaat tersebut, sebenarnya permainan tradisional ini penting dilakukan oleh anak-anak zaman sekarang. Selain untuk memperoleh manfaat yang tidak bisa didapat dari permainan modern, juga untuk mendapatkan wacana lain yang bisa membuat hidup anak lebih kreatif.
Sebagai kota besar yang terus berkembang, Kota Malang sekarang ini mengalami perubahan tidak hanya dari wajah lingkungan sekitar dan wajah-wajah baru warga yang menempati rumah silih berganti namun juga jenis permainan yang dulu popular dimainkan seperti bermain petak umpet, layang-layang, gasing, egrang dan lain-lain. Modernisasi yang bergerak lambat namun pasti telah membuat permainan modern berkembang pesat dengan jenis-jenisnya yang makin variatif, permainan tradisional kini kian tersisih, tertinggal bahkan terlupakan. Mulai dari anak-anak sampai mereka yang telah dewasa pun kini asyik di depan layar TV, komputer, dan handphone untuk bermain game. Bahkan mereka rela merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melengkapi aplikasi game mereka. Hal tersebut tidak mengherankan karena permainan ini tidak memerlukan tempat khusus dan luas serta bisa dimainkan sendiri.
Permainan modern memang bisa dimainkan dimana saja dan kapan saja. Tidak jarang pula anak-anak membawa HP ke sekolah untuk main game di waktu istirahat atau ketika ada guru yang berhalangan hadir. Walaupun sekolah sudah melarang siswa-siswa membawa HP namun ternyata masih banyak siswa yang tetap membawa. Mereka memanfaatkan HP bukan hanya sekedar sebagai alat komunikasi tetapi juga sebagai sarana hiburan.
Sementara itu, permainan modern yang saat ini menjadi idola baru bagi anak-anak sangat tidak mendidik, cenderung individual, materialistis, ingin menang sendiri, dan masih banyak efek negatif lainnya.
Ironis memang, permainan modern yang sebagian besar berasal bukan dari negara sendiri, justru semakin digemari. Padahal, permainan tradisional dapat menjadi identitas warisan budaya bangsa ditengah keterpurukan kondisi bangsa saat ini.
Semakin berkurangnya lahan untuk bermain di Kota Malang menjadi titik awal minimnya anak-anak untuk memainkan permainan tradisional. Lahan terbuka yang selama ini sebagai ruang publik telah banyak tergusur. Padahal, permainan tradisional ini sama dengan olahraga rekreasi yang membutuhkan lahan luas, bahkan sudah diatur dalam Undang-Undang olahraga Rekreasi. Tapi kalau lahan yang ada sekarang ini sudah terasa sempit, tentunya memainkan permainan tradisional akan terbatas pula.
Selama ini, pembangunan yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang cenderung mengabaikan kebutuhan masyarakat akan lahan terbuka. Bahkan, RTRW yang sudah dirancang seringkali dirubah Pemkot demi keinginan investor. Akibatnya, masyarakatlah yang menuai dampaknya terutama anak-anak yang akan kehilangan lahan untuk bermain.
Adagium Malang Kota Ruko (Makoru) sejak Peni Suparto berkuasa, karena kurang memerhatikan permainan tradisional dan menyediakan lahan untuk permainan tersebut. Apalagi melihat perkembangan permainan tradisional semakin tersisihkan dengan hadirnya permaian-permainan modern.Tak bisa dipungkiri, kurangnya perhatian dari pemerintah, membuat permainan tradisional tertinggal jauh dibanding video game, komputer game, pinball, game watch, dan jenis permainan modern ektronik lain yang saat ini menjamur di berbagai kota-kota besar. Jika hal ini tidak juga menjadi perhatian serius baik dari pemerintah maupun masyarakat, bukan tidak mungkin salah satu warisan budaya turun temurun itu akan musnah karena ketidaktahuan generasi muda dan generasi seterusnya.
Dengan penghayatan tentang pentingnya generasi-generasi yang tangguh dan bermoral semestinya permainan tradisional tidak ditinggalkan begitu saja lantaran tidak modern. Perlu ditegaskan pula bahwa tidak semua yang kuno itu jelek dan sebaliknya tidak semua yang modern itu baik. Semua kebudayaan semestinya diserap dengan akulturasi yang benar, dalam arti kebudayaan tradisional maupun kebudayaan modern yang baik harus dilestarikan sedangkan kebudayaan yang bernilai tidak baik bagi kemajuan bangsa harus disingkirkan.
Bagaimana mau melestarikan jika tidak tahu jenis-jenis permainan tradisional dan cara memainkannya. Kenyataan ini menjadi suatu tamparan bagi generasi sekarang yang telah banyak berubah seiring berkembangnya teknologi modern. Jika permainan tradisional tetap terjaga tentunya bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi suatu daerah, seperti Desa Petungsewu Kecamatan Dau, Malang. Desa ini menerapkan konsep ecotourism, dimana semua kebudayaan tradisional desa ditampilkan mulai dari permainan, tarian, hingga tradisi yang ada. Sebuah langkah kongkret dalam melestarikan budaya tradisional. Sehingga dengan demikian tidak sekedar kebudayaan saja tetapi kebudayaan yang bisa mendatangkan devisa yakni dikemas dalam pertunjukan kebudayaan dan pariwisata.
November 30th, 2008 at 5:21 pm
Hi!
xxoxo
I made on photoshop anime myspace pictures.
take a look at them:
http://tinyurl.com/5w2eqc
Thank you for your site
December 9th, 2008 at 1:14 pm
Cheers!
xoxoxo
I made with photoshop animated myspace pictures.
have a look at them:
http://tinyurl.com/6o76mq
Thanks for your site
December 11th, 2008 at 9:57 pm
thanks
December 27th, 2008 at 5:11 am
Hi your website is cool
I have a new band and we just had a live gig u can see here:
http://tinyurl.com/8w2esc
December 29th, 2008 at 9:51 pm
sudah dibuat data-base-nya kok, Pak. Tenang saja.
March 6th, 2009 at 1:19 pm
Manusia sbg makhluk yg berbudaya dlm kehidupan sehari-hari melakukan berbagai aktivitas. Aktivitas tsb merupakan refleksi dr kebutuhan manusia utk berhubungan dgn sesamanya, dgn alam, & dgn Tuhan. Kebutuhan yg diperlukan manusia selain kebutuhan fisik, jg non fisik yg menyangkut rasa keindahan, rekreasi, bermain, pembinaan mental, dll. Olh krn adanya kebutuhan itu, masyarakat mewujudkannya dlm berbagai aktivitas budaya yg akhirnya menjadi milik bersama.
Salah satu bentuk aktivitas yg dilakukan masyarakat adlh permainan rakyat. Adanya aktivitas ini utk memenuhi kebutuhn akn pembinaan jasmani & sikap mental. Adapn munculnya permainan rakyat bermula dr usaha manusia utk mengisi waktu luang, yg kemudian berkembang mjd alat utk membina ketrampilan & sikap dlm bergaul yg lebih luas. Permainan rakyat hidup & berkembang dlm masyarakat secara turun temurun & bentuknya relatif tdk berubah serta dirasakan sebagai milik bersama.
http://www.gasingindonesia.wordpress.com
http://www.gasing-indonesia.blogspot.com
March 15th, 2009 at 8:24 am
hm..permainan tradisional saat ini sudah nulai tersisih..Banyak faktor yang mempengaruhi, salah satunya faktor lingkungan tempat tinggal yang seakan tidak memungkinkan lagi bagi anak untuk dapat memainkan permainan tradisional.
Melihat pergeseran permainan tradisional (jika tidak ingin disebut punah) yang sangat memprihatinkan, saya menjadi tertarik untuk mengangkat topik permainan tradisional menjadi topik penelitian saya..
Semoga ini menjadi langkah awal untuk setidaknya share tentang pentingnya manfaat permainan tradisional terhadap diri manusia. Dalam hal ini yang akan merasakan manfaat tersebut khususnya anak-anak.,